Ø HIPOTESIS URUTAN ALAMIAH
Hipotesis urutan alamiah tidak menyatakan bahwa setiap pengakuisisi (orang) atau penerima akan memperoleh struktur gramatikal dalam urutan yang sama persis. Menurut hipotesis ini, terdapat urutan – urutan alamiah dalam pemerolehan bahasa. Baradja mengemukakan bahwa hipotesis ini didukung penelitian – penelitian yang dilakukan oleh Brown, Dulay, dan Burt.
Hal itu tidak berarti bahwa urutan pemerolehan bahasa sama bagi setiap orang. Tetapi secara umum terdapat urutan alamiah yang hampir sama antara proses yang diikuti oleh anak – anak dalam pemerolehan bahasa pertama dan proses yang diikuti oleh orang dewasa dalam pemerolehan bahasa kedua.
Hipotesis urutan alam telah dikonfirmasi untuk berbagai struktur dalam peneriamaan bahasa pertama anak. Brown memetakan pertumbuhan empat belas morfem gramatikal dari waktu ke waktu dalam tiga anak (studi longitudinal) dan menemukan kesamaan yang mencolok dalam rangka penerimaan (tetapi tidak dalam tingkat penerimaan, topik akan kita bahas kemudian). Brown juga menyimpulkan bahwa hasil yang konsisten dengan hasil peneliti lain. Rekan Brown, Jill dan Peter de Villiers, menegaskan bahwa ada kesamaan anak-anak cenderung untuk mendapatkan hak lebih sering adalah struktur yang sama bahwa Brown menemukan diperoleh pada awal penelitian longitudinal nya.
Sebuah penemuan berikutnya yang sangat penting adalah bahwa anak-anak memperoleh bahasa Inggris sebagai bahasa kedua juga menunjukkan tatanan alam untuk morfem gramatikal. Dalam serangkaian studi, Dulay dan Burt melaporkan bahwa anak-anak memperoleh bahasa Inggris sebagai bahasa kedua di berbagai bagian Amerika Serikat dan dengan bahasa pertama yang berbeda (Cina dan Spanyol), menunjukkan urutan kesulitan sangat mirip kata-kata berbagai fungsi dan morfem gramatikal. Hasil ini telah dikonfirmasi oleh sebagian besar penelitian lain menggunakan acquirers anak bahasa kedua. Bahkan lebih mengejutkan, dalam pendapat kami, adalah menemukan bahwa orang dewasa juga menunjukkan urutan morfem gramatikal alami.
Sebuah penemuan berikutnya yang sangat penting adalah bahwa anak-anak memperoleh bahasa Inggris sebagai bahasa kedua juga menunjukkan tatanan alam untuk morfem gramatikal. Dalam serangkaian studi, Dulay dan Burt melaporkan bahwa anak-anak memperoleh bahasa Inggris sebagai bahasa kedua di berbagai bagian Amerika Serikat dan dengan bahasa pertama yang berbeda (Cina dan Spanyol), menunjukkan urutan kesulitan sangat mirip kata-kata berbagai fungsi dan morfem gramatikal. Hasil ini telah dikonfirmasi oleh sebagian besar penelitian lain menggunakan acquirers anak bahasa kedua. Bahkan lebih mengejutkan, dalam pendapat kami, adalah menemukan bahwa orang dewasa juga menunjukkan urutan morfem gramatikal alami.
Ø HIPOTESIS MONITOR
Hipotesis ini menyatakan bahwa pembelajaran yang sadar memiliki fungsi yang sangat terbatas dalam kinerja bahasa orang dewasa kedua: hanya bisa digunakan sebagai monitor, atau editor. Hipotesis mengatakan bahwa ketika kita menghasilkan ucapan-ucapan dalam bahasa kedua, ucapan adalah "diprakarsai" oleh sistem yang diperoleh.Dan belajar sadar kita hanya datang ke dalam bermain nanti. Kita dapat menggunakan monitor untuk membuat perubahan dalam ucapan kami hanya setelah ucapan telah dihasilkan oleh sistem yang diperoleh. Hal ini mungkin terjadi sebelum kita benar-benar berbicara atau menulis, atau mungkin tidak pernah terjadi setelah.
Menurut hipotesis ini juga, proses pemelajaran di kelas hanya memiliki kegunaan yang terbatas dalam perilaku kebahasaan orang dewasa. Hasil yang diperoleh dari pemelajaran hanya akan berfungsi sebagai monitor atau penyunting kalimat yang akan atau sudah dihasilkan. Apabila proses monitor tersebut dilakukan sebelum kalimat dihasilkan, proses ini menjadi kegiatan mental yang menghasilkan kalimat yang diinginkan. Sebaliknya, apabila proses itu dilakukan sesudahnya, monitor tersebut merupakan koreksi terhadap kalimat yang dihasilkan.
Ada tiga persyaratan yang harus dipenuhi untuk menggunakan monitor dengan sukses :
1. Pembicara harus memiliki cukup waktu
2. Pembicara memfokuskan perhatian pada bentuk (kaidah bahasa)
3. Pembicara mengetahui aturan – aturan tata bahasa sasaran
Tidak ada komentar:
Posting Komentar