Pada zaman dahulu kala di daerah Sumedang, terdapat Kerajaan Tembog Agung yang dipimpin oleh Prabu Guru Adji seorang raja yang baik, ramah, bijaksana, gagah dan sangat memperhatikan kesejahteraan rakyat yang dipimpinnya. Demi rakyatnya dia melakukan kerjasama dengan Kerajaan Galuh yang di pimpin oleh seorang raja yang urakan dan tidak sopan. Dari hubungan kerjasama inilah Prabu Guru Adji bertemu dengan Nyi Mas Dewi Nawangmulan, anak dari Raja Galuh yang penurut, baik hati dan patuh terhadap setiap perkataan ayahnya. Prabu Guru Adji tertarik pada kebaikan dan kecantikan dari Nyi Mas Dewi Nawangmulan karena itu akhirnya Prabu Guru Adji mempersunting Nyi Mas Dewi Nawangmulan sebagai permaisurinya. Pernikahan mereka berjalan dengan bahagia dan buah dari pernikahan mereka lahirlah empat orang putra. Salah satunya adalah Tadjimalela.
Setelah Tadjimalela beranjak dewasa sebagai putra mahkota tahta kerajaan akhirnya diturunkan kepadanya. Setelah tahta kerajaan dipegang oleh Tadjimalela, nama kerajaan berubah menjadi Kerajaan Hibar Buana. Tak jauh dengan ayahnya Tadjimalela memimpin kerajaan dengan bijaksana. Pertemuan tidak sengaja dengan Endang Asih seorang putri dari sebuah kerajaan menimbulkan benih-benih cinta. Tadjimalela luluh mendengar senandung pupuh yang dilantunkan Endang Asih dengan sangat merdu. Pada pertemuan pertama itu Tadjimalela mengungkapkan perasaan cintanya pada Endang Asih dan memintanya menjadi permaisurinya dan menikah dengannya bersama-sama memimpin kerajaan Hibar Buana. Tetapi Endang Asih tidak langsung menjawab permintaan Tadjimalela, dia meminta sebuah bukti rasa cinta Tadjimalela kepadanya. Tadjimalela menyanggupinya dia berjanji akan membuktikan bahwa dia sungguh-sungguh menyayangi dan mencintai Endang Asih.
Awal dari peristiwa menakutkan itu terjadi ketika Gagak Sangkur raja dari sebuah kerajaan mendengar kabar seorang wanita yang memiliki suara indah yang bernama Endang Asih. Gagak Sangkur hendak menemui Endang Asih dan mempersuntingnya menjadi permaisuri. Saat bertemu dengan Gagak Sangkur Endang Asih ketakutan karena perawakan Gagak Sangkur yang menyeramkan dan cara berbicaranya yang kasar membuat Endang Asih takut. Gagak Sangkur memaksa Endang Asih untuk menjadi istrinya namun Endang Asih menolaknya mentah-mentah yang menyebabkan kemarahan Gagak Sangkur memuncak. Saat itulah Tadjimalela datang dan melindungi Endang Asih dari amukan Gagak Sangkur. Kemarahan Gagak Sangkur semakin memuncak melihat orang yang dicintainya sudah menjadi milik orang lain dan berjanji pada Tadjimalela bahwa dia akan datang lagi dan merebut Endang Asih dari Tadjimalela.
Gagak Sangkur datang dengan menyalakan api peperangan dengan Tadjimalela. Saat itulah peperangna antara dua kerajaan terjadi untuk merebutkan seorang putri bernama Endang Asih. Pertempuran sengit terjadi antara Gagak Sangkur dengan Tadjimalela yang berakhir dengan kematian keduanya. Endang Asih sedih dan terus meratapi kepergian Tadjimalela seorang lelaki yang baru saja dia kenal dan sangat dia cintai. Tadjimalela membuktikan rasa cintanya pada Endang Asih dengan mengorbankan dirinya sendiri. Sejak saat itulah Kerajaan Hibah Buana berganti nama menjadi Sumedang Larang.
Naskah drama Darah Cinta Tadjimalela, merupakan sebuah naskah yang diambil dari cerita sejarah. Dengan mengapresiasikan naskah ini, kita mengetahui sejarah sebuah kerajaan. Naskah yang menceritakan pada dahulu kala seorang raja yang rela mengorbankan nyawa demi melindungi sang pujaan hati, banyak hal yang bisa kita dapatkan dari naskah ini. Misalnya kita harus menjadi orang yang baik, ramah, bijaksana, dan memperhatikan sekeliling sekalipun kita telah menjadi seorang pemimpin.
Sebelum menyaksikan pertunjukkan Darah Cinta Tadjimalela, yang terlintas dipikiran saya adalah pertunjukkan yang menyeramkan yang bisa membuat bulu kuduk merinding, namun saat menyaksikan pertunjukkan tersebut saya malah ketawa. Jalan cerita yang dibangun para tokoh sebenarnya cukup membuat para penonton mengerti, namun pertunjukkan tersebut terkesan banyak komedinya, sehingga mungkin banyak penonton yang tidak memperhatikan bahkan mungkin tidak mengerti jalan cerita dari naskah tersebut.
Kita bisa mengapresiasikannya melalui beberapa hal :
Alur
Ø Prabu Guru Adji menikah dengan Nyi Mas Dewi Nawangmulan, dari pernikahan tersebut lahirlah 4 buah hati. Salah satunya adalah Tadjimalela.
Ø Tadjimalela menjadi raja, dan nama kerajaan diubah menjadi Kerajaan Hibar Buana.
Ø Tadjimalela bertemu dengan Endang Asih dan ingin mempersuntingnya.
Ø Gagak Sangkur mendengar suara indah Endang Asih dan ingin mempersuntingnya menjadi permasuri.
Ø Tadjimalela melindungi Endang Asih.
Ø Perang antara Gagak Sangkur dan Tadjimalela dimulai.
Ø Gagak Sangkur dan Tadjimalela meninggal.
Dilihat dari runtutan peristiwa tersebut dalam naskah ini terdapat beberapa alur gerak, alur pedih, dan alur tragis. Alur pedih terlihat saat Tadjimalela mengungkapkan rasa cintanya kepada Endang Asih namun Endang Asih meminta bukti untuk perasaan cinta Tadjimalela. Dan akhirnya Tadjimalela meninggal saat melindungi Endang Asih dari amukkan Gagak Sangkur, hal tersebut juga menunjukkan alur tragis. Dimana tokoh utamanya seorang yang ganteng tapi lemah, mendapat musibah berangkai. Tidak pantas mendapat kemalangan. Cerita berakhir dengan kepedihan menimbulkan rasa kasihan penonton maupun pembaca naskah.
Namun dilihat dari pertunjukanan, alur yang digunakan dalam pertunjukkan adalah alur mundur. Hal tersebut dilihat dari :
BABAK I :
Lighting menyorot ke panggung, di tengah panggung hanya ada Nyi Mas Putri Galuh Pakuan (Endang Asih).
Endang Asih : (duduk di atas batu sambil menangis terisak-isak dan memeluk pakaian Tadjimalela yang berlumuran darah, dengan mimik wajah yang mencerminkan kesedihan mendalam.)
Dari kutipan tersebut jelas bahwa adegan selanjutnya akan membangun cerita yang menjelaskan mengapa Endang Asih menangis.
Tokoh
Ø Prabu Guru Adji, seorang raja kerajaan Tembog Agung yang baik, ramah, bijaksana, gagah dan sangat memperhatikan kesejahteraan rakyat yang dipimpinnya. Tokoh ini menggambarkan tokoh protagonis dimana tokoh menampilkan sesuatu yang sesuai dengan pandangan kita, harapan-harapan kita sebagai pembaca dan sebagai penonton. Metode yang digunakan penyanji dalam menggambarkan watak Prabu Guru Adji adalah metode dramatik, hal tersebut dilihat dari naskah namun jika dilihat dari sinopsis menggunakan metode diskursif. Watak Prabu Guru Adji terlihat pada kutipan dibawah ini dalam sinopsis :
Pada zaman dahulu kala di daerah Sumedang, terdapat Kerajaan Tembog Agung yang dipimpin oleh Prabu Guru Adji seorang raja yang baik, ramah, bijaksana, gagah dan sangat memperhatikan kesejahteraan rakyat yang dipimpinnya. Demi rakyatnya dia melakukan kerjasama dengan kerajaan Galuh yang di pimpin oleh seorang raja yang urakan dan tidak sopan.
Ø Raja Galuh, seorang raja kerajaan Galuh yang urakan dan tidak sopan. Tokoh ini menggambarkan tokoh antagonis dimana tokoh ini berlawanan dengan tokoh protagonis secara langsung maupun tidak langsung, bersifat fisik maupun batin. Metode yang digunakan penyaji dalam menggambarkan watak Raja Galuh adalah metode dramatik jika dilihat dari naskah namun jika dilihat dari sinopsis menggunakan metode diskursif. Watak Raja Galuh terlihat pada kutipan dibawah ini dalam sinopsis :
Demi rakyatnya dia melakukan kerjasama dengan kerajaan Galuh yang di pimpin oleh seorang raja yang urakan dan tidak sopan. Dari hubungan kerjasama inilah Prabu Guru Adji bertemu dengan Nyi Mas Dewi Nawangmulan, anak dari raja galuh yang penurut, baik hati dan patuh terhadap setiap perkataan ayahnya.
Ø Nyi Mas Dewi Nawangmulan, seorang putri kerajaan Galuh yang penurut, baik hati dan patuh terhadap setiap perkataan ayahnya. Tokoh ini menggambarkan tokoh protagonis, metode yang digunakan metode dramatik jika dilihat dari naskah namun jika dilihat dari sinopsis menggunakan metode diskursif. Watak sang putri yang menunjukkan patuh terhadap perkataan ayahnya terlihat pada naskah berikut :
Nawangwulan : “Hormat hamba, Ayahanda. Prabu Guru Adji adalah seorang pemimpin yang begitu terlihat berwibawa, bertanggung jawab, dan penuh karisma. Kalau Ayahanda tidak keberatan, Ananda menyerahkan semua keputusan kepada ayahanda.” (tersipu malu)
Watak sang putri yang menunjukkan baik hati terlihat pada naskah berikut :
Nawang Wulan : “Sembah hamba, Prabu Guru Adji.” (salam, kedua tangan di depan dada)
Prabu Guru Adji : (mengangguk kepada Dewi Nawangwulan lalu menatapnya, Nawangwulan menjadi malu-malu).
Ø Tadjimalela, seorang putra mahkota kerajaan Tembog Agung yang bijaksana. Tokoh ini menggambarkan tokoh protagonis, metode yang digunakan metode dramatik jika dilihat dari naskah namun jika dilihat dari sinopsis menggunakan metode diskursif. Hal tersebut dilihat dari kutipan berikut :
Warga sedang bercocok tanam. Kemudian Tadjimalela masuk, dan ikut berinterksi dengan warga.
Rakyat : (menari dengan nyanyian pupuh)
Dari cuplikan dialog diatas terlihat keakraban seorang raja dengan rakyatnya. Selain watak tersebut ada juga watak lainnya yaitu rela mengorbankan demi membuktikan cintanya, watak ini dilihat dari dialog berikut :
Endang Asih :“Hmm…baiklah. Tapi sebelum aku menjawab pertanyaanmu itu, aku mempunyai satu syarat untukmu Prabu.”
Tadjimalela : “Syarat apa itu putri?”
Endang Asih : “Sungguh cinta itu tidak bisa hanya diucapkan dengan kata-kata. Aku sulit untuk memercayainya. Aku butuh sebuah pengorbanan darimu, entah pengorbanan seperti apa. Pengorbanan itu akan menjadi bukti cintamu kepadaku prabu. Apa kau sanggup?”
Tadjimalela : “Ohh.. itu rupanya. Aku pasti akan membuktikannya kepadamu putri. Akan ku buktikan besarnya cintaku kepadamu. Ingat itu, putri.”
Ø Nyi Mas Putri Galuh Pakuan (Endang Asih), seorang putri dari kerajaan yang mempunyai suara merdu, tidak mudah percaya pada suatu hal misalnya cinta. Tokoh ini menggambarkan tokoh protagonis, metode yang digunakan metode dramatik hal itu dari naskah. Watak ini dapat dilihat dari cuplikan dialog berikut yang menyatakan bahwa Endang Asih memiliki suara yang merdu:
Kemudian saat Tadjimalela dan warga bercocok tanam tiba-tiba ada seorang wanita berjalan sambil menyenandungkan pupuh.
Endang Asih : (menyanyikan pupuh sambil berjalan pelan)
Seluruh warga yang sedang bercocok tanam terpaku padanya dan tanpa disadari Tadjimalela menghampirinya.
Tadjimalela :“Suaramu ibarat gemuruh ombak di lautan dan gemerciknya air di hilir sungai, mengeluarkan syair-syair elok keheningan jiwa. Selalu menghibur alam semesta dan seisinya. Dengan menikmati syair-syair itu, keangkaramurkaan menjadi terlelap dalam tidurnya. Seperti hatiku yang telah terlena oleh pesonamu. Siapakah kiranya dirimu, Adinda?”
Endang Asih :(Endang Asih tersipu malu, wajahnya memerah lalu menundukan kepala tanpa berkata apa-apa).
Watak lain yang dimiliki Endang Asih adalah ia seorang putri yang tidak mudah percaya pada suatu hal misalnya cinta. Hal itu terdapat pada cuplikan dialog berikut :
Endang Asih :“Hmm…baiklah. Tapi sebelum aku menjawab pertanyaanmu itu, aku mempunyai satu syarat untukmu Prabu.”
Tadjimalela : “Syarat apa itu putri?”
Endang Asih : “Sungguh cinta itu tidak bisa hanya diucapkan dengan kata-kata. Aku sulit untuk memercayainya. Aku butuh sebuah pengorbanan darimu, entah pengorbanan seperti apa. Pengorbanan itu akan menjadi bukti cintamu kepadaku prabu. Apa kau sanggup?”
Tadjimalela : “Ohh.. itu rupanya. Aku pasti akan membuktikannya kepadamu putri. Akan ku buktikan besarnya cintaku kepadamu. Ingat itu, putri.”
Ø Gagak Sangkur, seorang raja yang berbicara dengan kasar dan pemarah. Tokoh ini menggambarkan tokoh antagonis, metode yang digunakan metode dramatik hal itu dari naskah. Watak ini dapat dilihat dari cuplikan dialog berikut yang menyatakan bahwa Gagak Sangkur yang berbicara kasar:
Gagak Sangkur :“Di mana wanita cantik itu, wadya? Di mana? Cepat tunjukkan!”
Wadya :(Berbisik) “Ssttt… sabar tuan, coba dengarkan. Coba dengarkan lantunan merdu itu.”
Gagak Sangkur :(Mencoba mencari-cari suara itu dan tak lama kemudian dia melihat sosok wanita cantik yang sedari tadi dicarinya) “Wahai putri, suaramu begitu cantik secantik wajahmu. Kau begitu menikmati lantunanmu sendiri.”
Endang Asih :(Terkejut, kemudian bangkit dari duduknya dan mencoba menghindar karena ketakutan) “Kaa...kaa..kalian siapa? Mau apa datang kemari?”
Watak yang lainnya adalah pemarah ini dapat dilihat dari cuplikan dialog:
Gagak Sangkur :“Ohh.. kau rupanya Tadjimalela. Ada apa kau ikut campur urusanku?”
Tadjimalela :“Aku tidak ingin mencampuri urusanmu. Tapi jika ini menyangkut dengan wanita cantik ini, berarti itu pun urusnku juga.”
Gagak Sangkur :“Apa maksudmu?”
Tadjimalela :“Harus kau ketahui, wanita cantik ini adalah calon permaisuriku. Jadi tidak ada yang berhak menggoda atau pun mengganggunya.”
Gagak Sangkur :“Apa?? Wanita cantik ini calon permaisurimu?? Tidak mungkin. Apa benar apa yang dikatakannya, putri?
Endang Asih :“Iya itu benar.” (tersenyum)
Gagak Sangkur :“Ohh.. tidak! Mengapa selalu kau Tadjimalela yang menjadi penghalangku. Ketika aku ingin menguasai wilayah ini, kau yang menguasainya. Dan sekarang kau pun menjadi penghalangku untuk mendapatkan wanita cantik ini?”
Ø Penasehat Kerajaan Tembog Agung, merupakan tokoh tambahan yang memiliki watak penurut dan menghormati. Watak itu dapat terlihat dari cuplikan dialog berikut :
(Prabu Guru Adji duduk di singgahsana kerajaan, kemudian masuk penasihat kerajaan)
Penasihat Kerajaan : (menghadap Prabu Guru Adji dengan mengusung sembah) “Ampun Prabu, Raja Galuh telah tiba di istana bersama putrinya.”
Prabu Guru Adji :“Persilakan mereka masuk, penasihatku.”
Penasihat Kerajaan :“Baik, Prabu. Hamba mohon permisi.” (mengusung sembah dan keluar panggung berjalan mundur)
Ø Wadya Balad (Penasihat Kerajaan Gagak Sangkur), merupakan tokoh tambahan yang memiliki watak perhatian dan suka membantu. Ini terdapat pada cuplikan dialog berikut :
Wadya :“Sebelumnya maaf tuan, ada yang ingin hamba tanyakan. Tumben, tidak biasanya tuan menanyakan pusaka itu?. Hampir 30 tahun, tuan tidak pernah sama sekali menyinggung tentang pusaka itu.”
Gagak Sangkur :“Aku hanya resah Wadya dan hanya pusaka ini yang dapat menghilangkan keresahan ini.”
Wadya :“Barangkali hamba bisa bantu? Apakah yang membuat hati tuan resah?”
Gagak Sangkur :“Aku kesepian Wadya selama aku menjadi raja di sini apakah kau pernah melihatku memiliki seorang permaisuri, tidak kan? Aku malu pada rakyatku karena sebagai raja aku tidak memiliki permaisuri.”
Wadya :“Tuan kalau boleh hamba membantu, Tuan ingat dulu ketika hamba sedang memata-matai Kerajaan Hibar Buana, hamba pernah melihat seorang wanita yang cantiknya bak bidadari. Siapa tahu tuan menyukainya.”
Ø Aki dan Nini, merupakan tokoh tambahan yang memiliki ingatan yang kuat padahal sudah tua. Ini terdapat pada cuplikan dialog berikut :
Aki :“Ni, Nini teh tahu tidak kelanjutannya? Aki teh khilap, Ni.”
Nini :“Yah inget atuh Ki, Nini kan masih muda. Hehe.. begini Ki kelanjutannya teh. Setelah bertahun-tahun bekerja sama. Berkat bantuan Kerajaan Galuh, Kerajaan Tembong Agung menjadi lebih makmur. Hingga suatu hari Raja Galuh pun menemui Prabu Guru Adji dan Raja Galuh membawa putrinya yang bernama….”
Aki & Nini :“Nyi Mas Dewi Nawangwulan” (dinyanyikan)
Latar
Di bawah ini latar yang digunakan pada naskah maupun pada saat penggambaran di pertunjukkan. Latar ini termasuk latar fisik/material. Berikut latar fisiknya yang merupakan latar tempat:
Ø Kerajaan Tambog Agung
(Prabu Guru Adji duduk di singgahsana kerajaan, kemudian masuk penasihat kerajaan)
Penasihat Kerajaan :(menghadap Prabu Guru Adji dengan mengusung sembah) “Ampun Prabu, Raja Galuh telah tiba di istana bersama putrinya.”
Prabu Guru Adji :“Persilakan mereka masuk, penasihatku.”
Penasihat Kerajaan :“Baik, Prabu. Hamba mohon permisi.” (mengusung sembah dan keluar panggung berjalan mundur)
Dari cuplikan dialog di atas kita mengetahui bahwa Prabu Guru Adji dan Penasehat Kerajaan sedang berbincang di istana, karena Prabu Guru Adji adalah raja Kerajaan Tembog Agung maka pastilah perbincangan mereka terlaksana di Kerajaan Tembog Agung.
Ø Pasar
Prabu Tadjimalela bersama seorang penasihat kerajaan setianya berjalan-jalan ke pasar. Prabu Tadjimalela mengenakan pakaian biasa, selayaknya rakyat. Prabu Tadjimalela ingin melihat-lihat keadaan di luar istana.
Tadjimalela :(Berjalan-jalan melihat keadaan di pasar, diikuti penasihat kerajaan kepercayaannya)
Dari cuplikan dialog di atas kita mengetahui bahwa Tadjimalela dan penasehat kerajaan sedang berjalan-jalan di luar istana, yaitu di pasar.
Ø Depan Istana
Prabu Guru Adji :“Ya sudahlah tidak apa, aku memang benar-benar akan lengser. Asal kalian tahu hari ini adalah hari di mana saya akan menyerahkan tahta kerajaan kepada putra sulung saya, Tadjimalela. Ananda Tadjimalela!” (Tadjimalela masuk panggung)
Prabu Guru Adji :“Ananda.. mahkota kerajaan ini Ayah serahkan kepadamu. Jalankan amanah ini dengan penuh tanggung jawab dan keikhlasan. Jadilah pemimpin yang berjiwa bijaksana”. (sambil memakaikan mahkota kerajaan ke kepala Prabu Tadjimalela)
Dari cuplikan dialog di atas kita mengetahui bahwa Prabu Guru Adji akan mengumumkan kepada rakyatnya tentang pemberian tahta kerajaan kepada Tadjimalela. Biasanya seorang raja jika akan mengumumkan suatu hal kepada masyarakat raja tersebut memberikan pengumumannya di depan istana.
Ø Perkebunan
Aki dan nini berbincang-bincang di perkebunan tentang kepemimpinan Prabu Tadjimalela, yang merubah nama kerajaan. Dulu bernama Kerajaan Tembog Agung dan diubah menjadi Kerajaan Hibar Buana. Dengan maksud agar menjadi kerajaan besar.
Ø Kerajaan Gagak Sangkur
(Gagak Sangkur duduk di singgahsana penuh resah)
Gagak Sangkur :“Wadya!!!”
Wadya :“Iya, Tuan. Ada yang bisa hamba bantu, Tuan?”
Gagak Sangkur :“Tolong bawa kemari pusakaku.”
Wadya :“Baik, Tuan.”
Dari cuplikan dialog di atas kita mengetahui bahwa Gagak Sangkur dan Wadya (penasehat Gagak Sangkur) sedang berbincang di istana, karena Gagak Sangkur adalah raja Kerajaan Gagak Sangkur maka pastilah perbincangan mereka terlaksana di Kerajaan Gagak Sangkur.
Tema
Tema sosial adalah tema dalam naskah dan pertunjukaan Darah Cinta Tadjimalela. Karena kita diperlihat tokoh utama yaitu seorang raja yang bijaksana dan perhatian kepada rakyat yang dipimpinnya.
Tipe
Tipe naskah sejarah. Pembuat naskah maupun para pemain dalam pertunjukkan tersebut ingin mengangkat sebuah sejarah tentang asal usul Sumedang Larang.
Nilai
Nilai kemasyarakatan itulah yang bisa kita ambil saat kita melihat pertunjukkan ini. Suatu saat nanti jika kita menjadi seorang pemimpin, kita haruslah bertindak bijaksana karena kenyataannya saat ini para pemimpin tidak bisa bertindak bijaksana.
Fungsi
Funfsi informatif, dimana suatu naskah atau pertunjukkan menyediakan, menawarkan, menyuguhkan, dan menghidangkan pengetahuan bagi pembaca atau bagi penonton. Sebelumnya kita tidak mengetahui asal usul Sumedang Larang, namun setelah membaca atau menonton pertunjukkan Darah Cinta Tadjimalela kita jadi mengetahuinya. Hal tersebut membuktikkan bahwa karya tersebut mempunyai fungsi informatif.
Pengalaman
Pengalaman etis dan moral yang saya dapat setelah membaca naskah dan melihat pertunjukan tersebut. Karena saya diajarkan menjadi seorang pemimpin yang benar dan bertanggungjawab dalam segala hal. Jika membaca naskah kita akan mendapat pengalaman humanistik, yaitu pengalaman yang berisi dan bermuatan nilai-nilai kemanusiaan , menjungjung harkat dan martabat manusia, menggambarkan situasi dan kondisi kemanusiaan (kondisi tragis, dramatis, sinis, ironis, humoristis, riang, murung, dan penasaran). Hal ini terdapat pada cuplikan cerita berikut :
Gagak Sangkur datang dengan menyalakan api peperangan dengan Tadjimalela. Saat itulah peperangna antara dua kerajaan terjadi untuk merebutkan seorang putri bernama Endang Asih. Pertempuran sengit terjadi antara Gagak Sangkur dengan Tadjimalela yang berakhir dengan kematian keduanya. Endang Asih sedih dan terus meratapi kepergian Tadjimalela seorang lelaki yang baru saja dia kenal dan sangat dia cintai. Tadjimalela membuktikan rasa cintanya pada Endang Asih dengan mengorbankan dirinya sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar