Minggu, 20 November 2011

Apresiasi Cerpen Jawablah Pertanyaanku karya Anneke Putri

Pepasir Samudera adalah antologi puisi dan cerpen karya Anneke Putri yang menurut saya menarik karena tidak banyak di Indonesia sastrawati yang karyanya mengangkat kehidupan sosial yang dibalut dengan religi. Dalam antologinya Anneke Putri sudah hampir menyampaikan semua tema misalnya tema sosial, keluarga dan pasti religi.
Cerpen “Jawablah Pertanyaanku” saya pilih sebagai cerpen dalam pengapresiasikan prosa fiksi Indonesia karena menurut saya cerpen gambaran kehidupan kita sehari-hari ditengah-tengah kota besar. Perbandingan kedudukan status seseorang saat berada di desa dengan di kota.
Cerpen ini mengingatkan kita bahwa kita sebagai manusia adalah makhluk sosial karena kita tidak bisa hidup sendiri melainkan pasti membutuhkan orang lain. Betapa pentingnya disaat apapun dalam kondisi bagaimanapun kita tetap harus berpasrah kepada Allah.
Anneke Putri dalam cerpen ini mengemasnya dengan sangat lugas. Sehingga apresiator mudah dalam memahami makna setiap kalimat sesuai dengan apa yang diminta penggarang.
Ada beberapa hal yang bisa diapresiasikan dalam karya sastra ini, yaitu dari segi alur, tokoh dan wataknya, latar, tema, tipe, nilai, dan fungsi.

Alur
      Seto datang dari desa Kalimanis, Kecanatan Doko, Kabupaten Blitar ke kota Surabaya untuk mencari pekerjaan. Seto berjalan menyelusuri jalan yang panas. Sebelum ia melanjutkan untuk mencari pekerjaan ia, ke masjid untuk sholat.
      Dari penggalan cerita tersebut kita ketahui bahwa alur yang digunakan adalah alur gerak. Dalam cerpen ini ditonjolkan sekali bahwa seolah-olah hanya tokoh utama sajalah yang bergerak.  Misalnya dalam kutipan berikut :
Sebelum memenuhi kebutuhan terhadap raganya yang fana, Seto membelokkan langkahnya untuk memenuhi kebutuhan jiwanya terhadap sang Pencipta jagat raya, mencipyakan dirinya maupun hawa yang sangar menguras keringat siapa saja yang berada di dalamnya. Air wudhu membuatnya lupa akan rasa lapar dan hausnya. Ada terbesit dalam keinginannya untuk meminum saja air dari kran masjid ini. Tapi ini bukan Mekkah yang air zamzamnya bisa diminum bagi siapapun yang memerlukan, terutama bagi musafir seperti dirinya,   
Dari kutipan itu kita mengetahui bahwa Seto sebagai tokoh utama melakukan pergerakan dari peristiwa “berjalan mencari kerja hingga sampai ke masjid dan mengambil air wudhu untuk sholat ”.

Tokoh
            Dari segi penokohan cerpen ini terdapat banyak tokoh:
·         Seto, wataknya tidak suka mengeluh, ramah, suka menolong, pasrah kepada Tuhan. Watak Seto ini memperlihatkan watak-watak pemuda yang berasal dari desa, namun tidak menutup kemungkinan banyak juga ditemuin watak seperti Seto pada pemuda-pemuda kota. Hal itu dilihat dalam kutipan berikut :
Dari 3 perusahaan yang sudah dimasukinya, tak satupun menyediakan sekadar air putih untuk pelamarnya. Seto tak pernah mengeluh dengan hal itu. Dia sudah biasa dengan tolakan dan perlakuan semacam itu. Wajah-wajah yang tidak ramah menerima pegawai rendahan macam ia, Seto sudah maklum dan menerima dengan ikhlas.
Terlihatlah bahwa Seto adalah tokoh utama dalam cerpen tersebut. Penggarang menggunakan metode diskursif dalam hal menerangkan watak Seto. Namun watak Seto yang suka tolong-menolong, pengarang menggunakan metode dramatik. Ini terlihat dalam :
Segera setelah dengan susah payah Seto mengangkat bapak itu yang memang tidak gampang untuk ukuran Seto yang badannya jauh lebih kurus dari si bapak. Untunglah otot yang biasa untuk menggarap sawahnya masih bisa dikendalikan semaksimal mungkin untuk diminta beban lebih berat.
·         Bapak Seto, wataknya bijaksana. Terlihat dalam kutipan :
“Bukan bapak tidak bersyukur pada Allah kalau bapak ingin kamu kerja di kota. Bapak ingin setelah kamu mengecap kehidupan kota, kamu akan merindukan kehidupan yang sederhana di sini. Di saat itulah kamu baru akan ikhlas tinggal dirumah ini, mengecap makanan yang tumbuh dari tanah milik kamu sendiri, meluhat anakmu tumbuh dari hari perhari, mendidik istrimu.”
Tokoh bapak Seto digambarkan dengan metode dramatik. Tokoh ini merupakan tokoh tambahan dalam cerpen. Watak bapak Seto mencontohkan kepada kita bahwa orang tua menginginkan kehidupan kita lebih baik dari pada orang tua kita. Misalnya seorang bapak menjadi petani, pasti bapak tersebut tidak mau anaknya menjadi petani seperti dia.
·         Ibu Seto, wataknya setia dan sayang kepada anak-anaknya. Seperti itulah watak kebanyakkan ibu yang kita jumpai, sosok ibu yang penuh rasa kasih sayang. Ibu Seto adalah tokoh tambahan yang digambarkan dengan metode diskursif. Dalam kutipan :
Bapaknya hanya petani garapan, ibunya dengan setia mengabdi pada suami dan memelihara ketujuh buah hati mereka, termasuk Seto yang merupakan anak tertua.
·         2 orang di masjid. Watak kedua tokoh ini sebenarnya tidak begitu terlihat hanya dalam cerpen ini dikemukan bahwa si tokoh suka memperhatikan. Hal itu terlihat pada :
Ketika itulah Seto mengetahui bahwa ada dua orang yang sedang memeperhatikannya. Seto dengan tersenyum malu mengangguk pada kedua orang tadi dan setelah mengucapkan salam, ia segera beringsut dan pergi.
·         Bapak di kantor. Dengan metode diskursif bapak ini digambarkan, yang juga termasuk tokoh tambahan. Sikap bapak ini adalah galak. Hai itu terlihat pada :
Oh, ada bapak yang tergeletak disana. Ah, bukankah itu bapak yang menghardiknya untuk segera masuk lift ketika Seto masih ragu harus masuk atau tidak.
Secara logika, pastilah sikap seorang bapak akan seperti itu jika dia merasa terburu-buru menggunakan suatu alat. 
·         Ibu di kantor, wataknya tidak peduli dengan sesama. Hal ini dapat kita ketahui dengan  berfikir, bagaimana mungkin seseorang yang mendengar teriakan minta tolong malah asik menelepon bukan  menolong. Tokoh ini dijelaskan dengan metode dramatik, dan ia hanya merupakan tokoh tambahan.  Dalam kutipan :
Sesampainya di sana, si wanita sedang menelepon. Seto dengan sabar. Lima menit berlalu, wanita tadi malah cekikikan, yang Seto tangkap bahwa wanita ini tidak serius atau sedang menelepon temannya.  
·         Ibu penolong. Dalam cerpen dikisahkan bahwa si ibu ini bersifat penolong namun juga galak. Hal ini terlihat dalam:
“Tolong angkat ke sofa, Pak. Saya akan menelepon rumah sakit. Bapak cari bantuan orang atau satpam gedung, ya. Kita ketemu di lobi, saya akan mempersiapkan mobil.”
Tokoh tersebut digambarkan dengan metode dramatik dan merupakkan tokoh tambahan.
·         2 Satpam yang mempunyai watak tak peduli. Mungkin seperti itulah kebanyakan sikap seorang satpam yang membantu hanya sekedar membantu karena profesinya sebagai satpam. Dengan metode dramatik tokoh ini dijelaskan bahwa tokoh tersebut mempunyai watak tidak peduli. Terlihat dalam kutipan berikut :
Kedua satpam tak berhenti mengeluh sepanjang jalan. Ada kesan dalam diri Seto bahwa mereka menolong karena mereka aadalah satpam, tak lebih tak kurang.  

Latar
Matahari makin terik hingga ke ubun-ubun Seto. Maklum saja, Surabaya sudah lama tidak tersiram kucuran hujan, aspal bagai fatamorgana gurun pasir yang panjang dan luas.
Dari kutipan tersebut diketahuilah bahwa latar tempat yang dipakai penggarang adalah di jalan di daerah Surabaya dan waktunya siang hari itu terlihat dari kalimat Matahari makin terik hingga ke ubun-ubun Seto. Jika kita berjalan di jalan yang cuacanya sangat panas kita akan merasa seolah-olah pandangan kita kedepan akan seperti fatamorgana jalan yang tak ada ujungnya.
Selain itu cerpen ini berlatar di masjid. Kutipannya sebagai berikut :
Sebelum memenuhi kebutuhan terhadap raganya yang fana, Seto membelokkan langkahnya untuk memenuhi kebutuhan jiwanya terhadap sang Pemcipta jagat raya, menciptakan dirinya maupun hawa yang sangat menguras keringat siapa saja yang berada di dalamnya. Air wudhu membuatnya lupa akan rasa lapar dan hausnya. Ada terbesit dalam keinginanya untuk meminum saja air dari kran masjid ini.
Yang paling banyak digambarkan dalam cerpen ini adalah saat berlatarkan di kantor pada siang hari. Memang seharusnya banyak bagian yang berlatarkan di kantor karena cerpen ini mengisahkan seorang pemuda yang mencari pekerjaan di perusahan-perusahan di Surabaya. Latar di kantor terlihat pada kutipan berikut :
 Seto heran, kursi tadi yang ada beberapa orang lagi sudah melompong. Sudah ditinggal oleh pelamar. Mungkin saja mereka beranggapan percuma menunggu di sini, sedangkan yang bertugas mewawancarai sedang tergeletak tak berdaya atau barangkali mereka mencoba peruntungan di temapt lain yang waktunya sudah ditentukan.  
     
Tema
Makna cerpen ini tidak lain bahwa kita sebagai manusia harus memiliki rasa suka menolong terhadap siapapun meski kita tidak mengenal orang yang kita tolong. Dan kita sebagai umat beragama harus selalu pasrah dan ikhlas atas semua yang terjadi kepada kita. Seperti itulah makna dari cerpen yang coba disampaikan penggarang dalam cerpen ini. Hal itu terlihat dalam kutipan berikut :
Segera setelah dengan susah payah Seto mengangkat bapak itu yang memang tidak gampang untuk ukuran Seto yang badannya jauh lebih kurus dari si bapak. Untunglah otot yang biasa untuk menggarap sawahnya masih bisa dikendalikan semaksimal mungkin untuk diminta beban lebih berat.
Dari kutipan tersebut, cerpen ini bertemakan tema kesosialan karena pengarang menonjolkan sikap tokoh utama yang suka menolong walau ia tidak kenal orang tersebut.
Dan dalam kutipan yang lain :
Memikirkan hal itu, Seto mesti sabar menahan rasa hausnya itu. Anggaplah sekarang Seto sedang berpuasa, bukankah ia selalu kuat berpuasa Senin Kamis, puasa sepanjang Ramadhan karena ikhlas? Ya, Seto harus bisa menahan diri dan ikhlas.
Dari kutipan tersebut, cerpen ini bertemakan tema spiritual. Karena si tokoh utama ditonjolkan dengan sikap ikhlas dan pasrah terhadap Allah.


Tipe
Tipe cerpen ini adalah tipe cerpen sosial. Penggarang mencoba menggambarkan keadaan sosial di kota-kota besar yang berbeda dengan di desa.

Nilai
      Dari cerpen ini nilai yang bisa diambil adalah nilai kemasyarakatan. Kita sebagai manusia tidak bisa hidup sendiri melainkan membutuhkan orang lain. Kita harus selalu ikhlas dalam mengahadapi cobaan yang ada. Kita juga harus senantiasa bersyukur kepada Allah atas nikmat yang telah diberikan. Terlihat dalam kutipan :
Segera setelah dengan susah payah Seto mengangkat bapak itu yang memang tidak gampang untuk ukuran Seto yang badannya jauh lebih kurus dari si bapak. Untunglah otot yang biasa untuk menggarap sawahnya masih bisa dikendalikan semaksimal mungkin untuk diminta beban lebih berat.
      Ada juga pada kutipan :
Sebelum memenuhi kebutuhan terhadap raganya yang fana, Seto membelokkan langkahnya untuk memenuhi kebutuhan jiwanya terhadap sang Pemcipta jagat raya, menciptakan dirinya maupun hawa yang sangat menguras keringat siapa saja yang berada di dalamnya. Air wudhu membuatnya lupa akan rasa lapar dan hausnya. Ada terbesit dalam keinginanya untuk meminum saja air dari kran masjid ini.
      Terdapat pula pada kutipan berikut :
Dari 3 perusahaan yang sudah dimasukinya, tak satupun menyediakan sekadar air putih untuk pelamarnya. Seto tak pernah mengeluh dengan hal itu. Dia sudah biasa dengan tolakan dan perlakuan semacam itu. Wajah-wajah yang tidak ramah menerima pegawai rendahan macam ia, Seto sudah maklum dan menerima dengan ikhlas.

      Fungsi cerpen ini adalah fungsi penyadaran. Setelah kita membaca cerpen ini kita akan merasa tersadarkan bahwa kita tidak hidup sendiri, kita tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup secara sendiri. Kita hidup bermasyarakat harus tolong-menolong.

Pengalaman
      Pengalaman etis dan moralah yang saya dapat dari cerpen ini. Saya sendiri pernah merasakan hal yang hampir serupa dengan cerpen ini. Dimana pernerdaan di kota dan di desa yang cukup menonjol. Di kota orang banyak bersikap individualis berbeda dengan kebanyakan orang yang tinggal di desa yang suka membantu. Seharusnya dimanapun kita tinggal entah itu di desa maupun di kota, apapun perbedaan pangkat sosial kita, berbeda agama, suku  tetap kita harus saling membantu.hai ini ditinjikkan Seto dengan membantu seorang bapak yang pingsan padahal Seto tidak mengenalnya. Sebagai berikut kutipannya :
“Tolong...!” Suara itu cukup kencang. Di bangku deretan pelamar sudah tidak banyak, yang laki-laki tinggal 3 orang. Seto melirik kanan kirinya tidak ada yang bergerak menolong, pun dari ruangan sebelah juga tak ada yang merespon, mereka mungkin asyik dengan pekerjaan atau teleponnya. Barangkali. Seto segera menuju ke arah suara. Oh, ada bapak yang tergeletak disana. Ah, bukankah itu bapak yang menghardiknya untuk segera masuk ke lift ketika Seto masih raguharus masuk atau tidak.

Simpulan
      Seto yang merupakan anak tertua dari pasangan seorang petani dan ibu ramah tangga biasa. Ia pergi ke kota Surabaya untuk mencari pekerjaan di perusahan-perusahan. Sikap tidak ramah yang ditunjukkan kepada Seto setiap ia masuk ke perusahan-perusahan diterimanya dengan ikhlas. Setelah Seto melamar dibeberapa perusahan, ia menyempatkan diri untuk sholat di masjid di sekitar wilayah tersebut. Dengan sikap pasrah ia berdoa mohon petunjuk kepada Allah. Setelah itu ia melamar pekerjaan lagi. Disaat ia sedang menunggu antrian untuk diwawancarai, ia mendengan teriakan orang minta tolong. Tapi tak ada satupun yang merespon. Seto segra menghampiri datangnya suara, ternyata ada seorang bapak yang tergeletak pingsan disana dan bapak tersebut yang tadi sempat menghardik Seto. Seto segera mencari bantuan. Dengan dibantu 2 orang satpam Seto membawa bapak itu ke lobi karena di lobi sudah menunggu seorang ibu yang akan membawa bapat itu ke rumah sakit.
      Dari sinopsis diatas kita ketahui bahwa dimanapun kita berada kita harus saling menolong sekalipun orang tersebut tidak kita kenal, sekalipun orang tersebut pernah membuat kita sakit hati. Dan kita tidak boleh melupankan Allah, karena dengan pertolongannya kita bisa menghadapi kehidupan ini dengan ikhlas dan sabar.  

Daftar Rujukan
      Puteri, Anneke. 2010. Pepasir Samudera. Jakarta: Zikrul Hakim 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar