Morfologi adalah bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan atau yang mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata, atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik.
Dalam hierarki linguistik, kajian morfologi berada diantara kajian fonologi dan sintaksis seperti pada bagan berikut :
Wacana |
Sintaksis |
Morfologi |
Fonologi |
Sedangkan objek yang dikaji morfologi adalah :
Morfem |
Kata |
Bentuk Kata |
Alat Pembentuk |
Makna Gramatikal |
Dalam bahasa Indonesia kita mengenal proses morfologis yaitu proses pembentukan kata dari sebuah bentuk dasar melalui pembubuhan afiks (dalam proses afiksasi), pengulangan (dalam proses reduplikasi), penggabungan (dalam proses komposisi), pemendekan (dalam poses akronimisasi), dan penggubahan status (dalam proses konversi).
2.1 Hakikat Reduplikasi
Ada beberapa pengertian reduplikasi, yaitu :
1. Menurut Prof. Drs. M. Ramlan, proses pengulangan atau reduplikasi adalah pengulangan satuan gramatikal, baik seluruhnya maupun sebagiannya, baik dengan variasi fonem maupun tidak.
2. Menurut Masnur Muslich, proses pengulangan atau reduplikasi adalah peristiwa pembentukan kata dengan jalan mengulang bentuk dasar, baik seluruhya maupun sebagian, baik bervariasi fonem maupun tidak, baik berkombinasi dengan afiks maupun tidak.
3. Menurut Harimurti Kridalaksana dalam Kamus Linguistik Edisi Ketiga, reduplikasi adalah proses dan hasil pengulangan satuan bahasa sebagai alat fonologis atau gramatikal.
Proses reduplikasi menghasilkan kata ulang sedangkan satuan yang diulang merupakan bentuk dasar. Misalnya, kata ulang rumah-rumah dari bentuk dasar rumah.
Meskipun reduplikasi merupakan masalah dalam pembentukan kata, tetapi tampaknya ada juga reduplikasi yang berhubungan dengan masalah fonologi, masalah sintaksis, dan masalah semantik:
1. Reduplikasi Fonologi
Berlangsung terhadap dasar yang bukan akar atau terhadap bentuk yang statusnya lebih tinggi dari akar. Status bentuk yang diulang tidak jelas dan reduplikasi fonologis tidak menghasilkan makna gramatikal, melainkan menghasilkan makna leksikal. Contoh:
a. Kuku, pipi dan sisi. Bentuk tersebut bukan berasal dari ku, pi dan si melaikan sebuah kata yang bunyi kedua suku katanya sama.
b. Foya-foya, tubi-tubi dan ani-ani. Bentuk tersebut merupakan bentuk pengulangan secara utuh. Namun bentuk dasarnya tidak berstatus sebagai akar yang mandiri, karena dalam bahasa Indonesia kini tidak ada akar foya, tubi dan ani.
c. Laba-laba, paru-paru dan onde-onde. Bentuk ini merupakan bentuk ulang dan dasar yang diulang jelas ada, tetapi hasil reduplikasinya tidak menghasilkan makna gramatikal namun hanya menghasilkan makna leksikal.
d. Mondar-mandir, lunggang-langgang, dan kocar-kacir. Bentuk ini tidak diketahui mana yang menjadi bentuk dasar pengulangnya. Sedangkan maknanya pun hanyalah makna leksikal, bukan makna gramatikal. Dalam buku tata bahasa tradisional, bentuk ini disebut kata ulang semu.
2. Reduplikasi Sintaksis
Proses pengulangan terhadap sebuah dasar yang biasanya berupa akar, tetapi menghasilkan satuan bahasa yang statusnya lebih tinggi dari pada sebuah kata. Reduplikasi ini memiliki makna “menegaskan” atau “menguatkan” juga dilakukan terhadap akar yang menyatakan waktu. Contoh:
· Mereka-mereka memang sengaja tidak diundang.
· Besok -besok kamu boleh datang ke sini.
· Jauh-jauh didatangi juga rumah sahabat lamanya itu.
3. Reduplikasi Semantis
Pengulangan “makna” yang sama dari dua buah kata yang bersinonim. Misalnya ilmu pengetahuan, kata ilmu dan kata pengetahuan memiliki makna yang sama.
Ciri-ciri bentuk dasar kata ulang bahasa Indonesia sebagai berikut:
1. Kelas kata bentuk dasar kata ulang sama dengan kelas kata ulangnya.
Bahwa apabila suatu kata ulang berkelas kata benda (nomina) maka bentuk dasarnya pun berkelas kata benda (nomina). Contoh:
Kata Ulang | Bentuk Dasar |
Sekolah-sekolah (kata benda) | Sekolah (kata benda) |
Berlari-lari (kata kerja) | Lari (kata kerja) |
Sembilan-sembilan (kata bilangan) | Sembilan (kata bilangan) |
2. Bentuk dasar kata ulang selalu ada dalam pemakaian bahasa.
Maksud “dalam pemakaian bahasa” adalah dapat dipakai dalam konteks kalimat. Contoh:
Kata Ulang | Bentuk Dasar |
Melaku-lakukan | Melakukan bukan melaku |
Menyatu-yatukan | Menyatukan bukan menyatu |
Bergerak-gerak | Bergerak bukan gerak |
3. Arti bentuk dasar kata ulang selalu berhubungan dengan arti kata ulangnya. Contoh:
· Kata alun bukan merupakan bentuk dasar dari kata alun-alun.
· Kata undang bukan merupakan bentuk dasar dari kata undang-undang.
· Kata agar bukan merupakan bentuk dasar dari kata agar-agar.
Maka dilihat dari ciri ini, ketiga kata itu bukanlah kata ulang.
4. Menimbulkan makna gramatis.
5. Terdiri lebih dari satu morfem (polimorfemis).
2.2 Jenis-jenis Reduplikasi
1. Pengulangan Seluruh
Pengulangan seluruh ialah pengulangan bentuk dasar secara keseluruhan, tanpa berkombinasi dengan pembubuhan afiks dan tanpa perubahan fonem. Contoh:
Bentuk Dasar | Hasil Pengulangan Seluruh |
Batu | Batu-batu |
Persatuan | Persatuan-persatuan |
Pembangunan | Pembangunan-pembangunan |
2. Pengulangan Sebagian
Pengulangan sebagian ialah pengulangan bentuk dasar secara sebagian, tanpa perubahan fonem. Contoh:
Bentuk Dasar | Hasil Pengulangan Sebagian |
Menulis | Menulis-nulis |
Berlari | Berlari-lari |
Terguling | Terguling-guling |
3. Pengulangan yang Berkombinasi dengan Pembubuhan Afiks
Pengulangan yang berkombinasi dengan pembubuhan afiks ialah pengulangan bentuk dasar disertai dengan penambahan afiks secara bersama-sama atau serentak dan bersama-sama pula mendukung satu arti. Contoh:
Bentuk Dasar | Pengulangan dan + Pembubuhan Afiks | Hasil Pengulangan |
Rumah | Rumah + (-an) | Rumah-rumahan |
Hijau | (ke-) + Hijau + (-an) | Kehijau-hijauan |
Lincah | (se-) + Lincah + (-nya) | Selincah-lincahnya |
4. Pengulangan dengan Perubahan Fonem
Pengulangan dengan perubahan fonem ialah pengulangan bentuk dasar dengan disertai perubahan fonem. Kata ulang jenis ini termasuk golongan yang sangat sedikit. Misalnya, sayur-mayur, robak-robek dan gerak-gerik. Dari ketiga kata tersebut dapat disimpulkan bahwa kata sayur-mayur dibentuk dari bentuk dasar sayur yang diulang seluruhnya dengan perubahan fonem, ialah dari /s/ menjadi /m/. Begitu juga dengan kata gerak-gerik yang dibentuk dari kata dasar gerak dengan perubahan fonem dari /a/ menjadi /i/. Robek merupakan bentuk dasar dari kata ulang robak-robek dengan perubahan fonem dari /e/ menjadi /a/.
2.3 Makna Reduplikasi
1. Kata ulang yang menyatakan banyak. Contoh:
· Pulau-pulau yang ada didekat perbatasan dengan Negara lain perlu diperhatikan oleh pemerintah.
· Murid-murid harus memakai seragam..
· Buku-buku di perpustakaan disusun dengan rapi.
2. Kata ulang yang menyatakan sangat. Contoh:
· Anak kelas satu orangnya malas-malas dan tidak kooperatif.
· Rentangkan tanganmu lurus-lurus.
· Buang jauh-jauh benda itu.
3. Kata ulang yang menyatakan paling. Contoh:
· Setinggi-tingginya Joni naik pohon dia akan turun juga.
· Sejauh-jauh mata memandang hanya air yang kulihat.
· Ikatlah seerat-eratnya.
4. Kata ulang yang menyatakan mirip/menyerupai/tiruan. Contoh:
· Adik membuat kapal-kapalan dari kertas.
· Rumah itu memang bagus hanya langit-langitnya belum ada.
· Ayah membelikan mobilan-mobilan untuk Anggara.
5. Kata ulang yang menyatakan saling atau berbalasan. Contoh:
· Pertama kali bertemu mereka pandang-memandang.
· Saat bertemu, mereka bersalam-salaman.
· Mereka pukul-memukul di lapangan.
6. Kata ulang yang menyatakan waktu atau masa. Contoh:
· Datang-datang dia langsung tidur di kamar karena kecapekan.
· Bangun-bangun mereka sudah bertengkar..
· Pulang-pulang perutku lapar.
7. Kata ulang yang menyatakan agak atau sedikit bersifat. Contoh :
· Airnya jernih kebiru-biruan.
· Usianya sudah hampir 30 tetapi masih saja kekanak-kanakan.
· Tindakannya yang kedaerah-daerahan itu bisa menghambat pembangunan nasional.
8. Kata ulang yang menyatakan berulang kali atau seringkali. Contoh :
· Mereka menari-nari dengan gembira.
· Dia menembak-nembak ke segala arah.
· Rino bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
9. Kata ulang yang menyatakan dilakukan tanpa tujuan atau hanya untuk bersenang-senang. Contoh :
· Mari kita duduk-duduk di luar.
· Banyak orang mandi-mandi di Pantai Sanur
· Orang itu nyanyi-nyanyi di kamar mandi.
10. Kata ulang yang menyatakan tentang atau hal. Contoh :
· Dalam jilid-menjilid dialah orangnya.
· Cetak-mencetak menjadi tanggung jawab saya.
· Pancing-memancing adalah keahlian Rino.
11. Kata ulang yang menyatakan seluruh atau sepanjang. Contoh :
· Semalam-malaman kami tidak tidur karena ayah sakit.
· Sehari-harian kerjanya hanya melamun.
· Semasa-masa dia masih ada, hidupnya dihabiskan untuk membantu anak jalanan.
12. Kata ulang yang menyatakan makna terdiri dari yang disebut kata dasarnya. Contoh :
· Mereka dibariskan tiga-tiga di muka kantor.
· Bahan pakaian itu dipotongnya semeter-semeter.
· Diangkutnya beras itu sekarung-sekarung.
13. Kata ulang yang menyatakan makna intensitas. Contoh :
· Sebaiknya beres-beres dari sekarang.
· Cepat-cepat dimasukkannya buku-buku itu ke dalam lemari.
· Jangan membesar-besarkan persoalan ini.
2.4 Urutan Proses dalam Reduplikasi
Urutan reduplikasi tidak selalu sederhana. Pada bentuk ulang, proses reduplikasi atau proses pengulangannya tidak selalu terjadi pertama kali, tetapi banyak kemungkinan bahwa terjadi afiksasi terlebih dahulu, baru kemudian terjadi pengulangan. Terdapat dua urutan proses yaitu :
· Proses reduplikasi yang terjadi berlangsung ke arah sebelah kanan disebut reduplikasi progresif. Contoh :
Bentuk Dasar | Proses Reduplikasi | Hasil Pengulangan |
Jalan | ( ber- ) + jalan + jalan | Berjalan-jalan |
Batu | ( ber- ) + batu + batu | Berbatu-batu |
Ragu | ( ke- ) + ragu + ragu + (-an ) | Keragu-raguan |
· Proses reduplikasi yang terjadi berlangsung ke arah sebelah kiri disebut reduplikasi regresif. Contoh :
Bentuk Dasar | Proses Reduplikasi | Hasil Pengulangan |
Tembak | tembak + ( me- ) + tembak | Tembak-menembak |
Pukul | pukul + ( me- ) + pukul | Pukul-memukul |
2.5 Problematik dalam Proses Pembentukan Kata Reduplikasi
Pada kata ulang tentu sering dijumpai adanya kesulitan dalam menentukkan proses pengulangannya. Berikut mengenai pross pengulangan kata yang sering menimbulkan permasalah:
1. Bentuk-bentuk yag menyerupai kata ulang.
Beberapa pakar bahasa mengelompokkan sebagai kata ulang semu. Misalnya:
mondar-mandir
compang-camping
kocar-kacir
kupu-kupu
gado-gado
onde-onde
Kata-kata tersebut sering disebut sebagai kata ulang semu. Namun, kata-kata diatas tidak mempunyai bentuk dasar. Seperti yang dijelaskan dalam bagian ciri-ciri reduplikasi bahwa setiap kata ulang harus mempunyai bentuk dasar yang dapat berdiri sendiri. Jadi, kata-kata diatas bukan termasuk kata ulang.
2. Sementara itu, sering juga dijumpai bentuk seperti simpang-siur dan sunyi-senyap. Oleh orang awam dianggap sebagai kata ulang. Berkaitan dengan masalah tersebut, Prof. Drs. M. Ramlan menjelaskan bahwa bila bentuk tersebut dianggap sebagai kata ulang, berarti bahwa siur perubahan dari simpang dan senyap perubahan dari sunyi. Mungkinkah siur perubahan dari simpang dan senyap peubahan dari sunyi?. Secara deskripsi tentu hal ini tidak mungkin. Perubahannya sangat sukar dijelaskan. Kata-kata tersebut, kiranya lebih tepat dimasukkan dalam golongan kata majemuk yang salah satu morfemnya berubah morfem unik.
3. Dalam bentuk dasar kereta menjadi kereta-kereta menyatakan makna ‘banyak’ sedangkan pada kereta-keretaan tidak terdapat makna ‘banyak’, melainkan ada makna ‘sesuatu yang menyerupai bentuk dasar’. Jelaslah bahwa satu-satunya kemungkinan ialah kata kereta-keretan terbentuk dari bentuk dasar kata kereta yang diulang dan mendapatkan afiks –an. Namun, menurut Prof. Drs. M. Ramlan, proses tersebut dinilai tidak mungkin jika dilihat dari faktor makna.
4. Pada permasalah yang pertama disebutkan bahwa kupu-kupu, gado-gado dan onde-onde bukan termasuk kata ulang karena tidak dapat ditentukan bentuk dasarnya. Namun, mengapa harus ada tanda hubung ( - ) dalam kata tersebut padahal jelas bahwa kata tersebut bukan kata ulang.
Kelompok kami tidak bisa menemukan jawaban tentang hal tersebut.
Reduplikasi merupakan salah satu cara untuk membentuk kata dalam bahasa Indonesia , selain afiksasi dan komposisi. Proses reduplikasi dapat berlangsung apabila ada kata yang menjadi dasar ulangannya. Jadi, yang menjadi dasar ulangan harus kata. Jika dasar ulang tersebut mengalami reduplikasa, terbentuklah kata yang disebut kata ulang.
Permasalah yang muncul dalam proses reduplikasi antara lain mengenai penentuan bentuk dasar kata ulang tertentu, dan bentuk-bentuk yang menyerupai reduplikasi apakah dapat digolonglan ke dalam bentuk reduplikasi atau tidak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar